Rabu, 27 Januari 2016

puisi berbisik



DALAM KERANDA BERBISIK

Langkahku sudah letih…
suaraku meredup...
Air mataku sudah cukup menyuburkan
Pohon-pohon kokoh di negeri ini…
namun pelukan untuk anakku
masih hangat dan menenangkannya…

Penderitaan seakan
menjadi sahabat tebaik dalam hidup
tersenyum pun aku tak mampu lagi
sisa senyum yang masih tersimpan
hanya mampu ku ukir utk buah hatiku
agar jadi kekuatan baginya….

Bukannya aku bagian dari Negara ini??
Bukannya aku adalah salah satu anakmu??
Namun mengapa aku seakan terlupakan??
Nama kaumku selalu dipakai untuk meraut keuntungan bagimu..
Kau menyimpan harapan kosong dlm hatiku
saat nama kaumku kau zebut dgn alasan “memperjuangkan”
Memperjuangkan apa????
Memperjuangkan dompetmu??
Memperjuangka perut anak istrimu??
Lalu siapa peduli tangisanku di tanah kandung ibuku sendiri???
Kau membuat aku takut akan takdirku sendiri.





Anak Jalanan
Odi Shalahuddin
Masih adakah mimpi-mimpi panjang
Sebagai penggerak laku menuju perubahan
Kendati bergayut pada udara beracun
Dan dihempaskan oleh dinding-dinding kota yang beku
Menghampar tempat istirahat dalam segenap ruang
Dibawah todongan panas-dingin, dan pentungan!
Ya, masih adakah mimpi-mimpi panjang?
Dalam lantunan nyanyian dengan gitar usang
Tentang kemiskinan dan ketidakadilan
Juga tentang rasa cinta, lalu bisa terbahak
Mentertawai dunia, dan kita berada di dalamnya
Barangkali,
senar-senar gitar telah terputus, hingga tepuk tangan
dan berlembar amplop kosong terjajakan
pada para pengendara di setiap traffick light
Barangkali,
Keasyikan termanjakan pada program-program
yang telah diketahui hanya pada hitungan waktu
dan berganti lagi, berganti lagi,
Barangkali,
Tiada lagi mimpi, sebab dianggap tiada berarti
Barangkali,
Barangkali-barangkali yang semoga tidak terjadi
Ayolah, bangkitkan kembali
Nyala api perubahan
Setidaknya untuk ”menjadi”





DALAM HIMPITAN KERAS ZAMAN AKU BERDIRI
BERDIRI TUK MENATAP SEBUAH HARAPAN
TAK SATUPUN DIANTARA MEREKA MELIHAT
JERITAN SANG PENERUS TAHTA

TAK SATU PUN DARI MEREKA YANG BERANI
MENDENGAR JERITAN ANAK NEGERI
KARENA MEREKA TAKUT DENGAN JANJINYA.

AKU BERUSAHA BERDIRI TUK MERAJUT MIMPI
MIMPI YANG SELALU HADIR DALAM SETIAP HEMBUSAN NAFAS
AKU TAK PERLU HARTA MU
AKU TAK PERLU BELASKASIH MU
AKU TAK PERLU JANJI MANISMU
YANG AKU PERLU ADALAH KEADILANMU
AKU SAMA INGIN SEPERTI MEREKA
MERAJUT MIMPI DIATAS MEGAHNYA GEDUNG
MERAJUT MIMPI DENGAN LAPISAN SUTRA

APA SALAH KAMI SEHINGGA KAMI DI SINI
HANYA BERALASKAN TANAH
DENGAN DINDING BAMBU YANG BERLUBANG